Bayi dan Balita Menderita ISPA di Balikpapan Meningkat, Dampak Kabut Asap Karhutla

Kabut asap Karhutla

DEKANNEWS, JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menjadi perhatian menyusul meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada bayi dan balita. Dalam dua pekan pertama Oktober 2026, jumlah kasus pada kelompok usia tersebut telah mencapai sekitar 1.900 kasus.

Dampak buruk kualitas udara mulai terlihat dari meningkatnya kunjungan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan di sejumlah fasilitas kesehatan. Salah satunya terjadi di Puskesmas Mekarsari, Balikpapan, yang setiap hari menerima pasien dengan keluhan batuk kering dan sakit tenggorokan.

Kelompok lanjut usia (lansia), bayi, dan balita menjadi golongan yang banyak mengalami keluhan tersebut. Mereka dinilai lebih rentan terhadap gangguan pernapasan, terutama ketika kondisi udara memburuk akibat kabut asap karhutja.

Data Dinas Kesehatan Kota Balikpapan menunjukkan jumlah kasus gangguan pernapasan pada bayi dan balita mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Pada dua pekan pertama Oktober 2026, jumlah kasus tercatat mendekati angka sepanjang September 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Niken, mengatakan peningkatan kasus ISPA dalam dua pekan terakhir cukup signifikan. Bayi dan balita menjadi kelompok usia yang mendapat perhatian dalam perkembangan kasus tersebut.

Niken menyebut, pada Januari hingga Juli 2026, jumlah kasus pada bayi dan balita rata-rata berkisar 1.500 hingga 1.700 kasus per bulan. Angka tersebut mulai meninhkat sejak Agustus dan terus bertambah hingga memasuki Oktober.

"Sebenarnya semua umur, ini adalah semua umur tapi yang paling rentan itu balita dan lansia. Untuk balita kami adanya data balita ya, jadi rata-rata balita kalau dari bulan Januari itu sekira 1.500 sampai 1.700. Mulai bulan Agustus ini ada peningkatan jadi sudah 1.900, sedangkan di bulan September di angka 2.000, dan di bulan Oktober masih dua minggu ini sudah diangka 1.900 untuk balita, jadi memang ada peningkatan dibanding bulan-bulan sebelumnya pada 2026,” kata Niken di Balikpapan, Jumat (16/10/2026).

Dari sisi gejala, keluhan yang paling banyak ditemukan pada pasien saat ini adalah batuk kering dan sakit tenggorokan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan akibat paparan kualitas udara yang buruk di tengah kabut asap karhutla.

“Yang sekarang paling banyak mengeluhkan sakit tenggorokan, jadi kering batuk kering dam sakit tenggorokan, kalau yang sebelum-sebelumnya kan masih banyak yang pilek, kalau ini ya pileknya masih tetap banyak tapi enggak meningkat signifikan, lebih banyak di sakit tenggorokan sama batuk kering atau iritasi, iritasi tenggorokan, seperti itu,” terangnya.

Meski jumlah kasus ISPA pada bayi dan balita mengalami peningkatan, Dinas Kesehatan Kota Balikpapan menyatakan belum menerima laporan kematian bayi atau balita akibat gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kabut asap karhutla selama Oktober 2026.

Masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, khususnya bagi kelompok rentan. Dinas Kesehatan mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan polusi udara. (Zat)