Sesungguhnya Tuhanku Bersamaku
Tadi pagi, Selasa, 21 Juli 2026, saya menelepon seorang teman yang merupakan wartawan senior. Rencananya saya mau mengajak dia bertemu, tetapi saat itu telepon saya tidak diangkat.
Oleh : Sugiyanto
Ketua Hasrat ( Himpunan Masyarakat Nusantara)
Sore harinya, ia menelepon balik. Namun, karena hari sudah kesorean, akhirnya kami batal bertemu. Mungkin lain kali saja, ya.
Tanpa sengaja, saya memperhatikan foto profil WhatsApp-nya. Entah mengapa, saat melihatnya saya langsung tergerak ingin menulis tentang agama. Mungkin karena saya teringat beliau memiliki latar belakang pendidikan di pesantren.
Di foto profil WhatsApp-nya tertulis penggalan ayat Al-Qur’an:
إِنَّ مَعِيَ رَبِّي
Artinya:
“Sesungguhnya Tuhanku bersamaku.”
Dari situlah muncul dorongan untuk mengangkat tema tersebut dalam tulisan ini.
Kalimat tersebut ternyata merupakan bagian dari firman Allah dalam Al-Qur’an ketika Nabi Musa AS dan Bani Israil dikejar oleh Fir’aun beserta bala tentaranya. Saat itu, di depan mereka terbentang lautan, sedangkan di belakang pasukan Fir’aun semakin mendekat. Kaum Nabi Musa mulai merasa putus asa dan berkata bahwa mereka pasti akan tertangkap.
Namun, Nabi Musa menjawab dengan penuh keyakinan:
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
Qāla kallā, inna ma’iya rabbī sayahdīn.
“Musa berkata, ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’” (QS. Asy-Syu’ara: 62).
Secara umum, ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus memiliki keyakinan penuh kepada Allah. Dalam keadaan sesulit apa pun, Allah selalu bersama hamba-Nya, memberikan pertolongan, jalan keluar, dan petunjuk bagi mereka yang bertawakal kepada-Nya.
Lalu, bagaimana penjelasan ayat ini menurut Tafsir Ibnu Katsir?
Dalam Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, halaman 154–155, dijelaskan bahwa Fir’aun keluar bersama pasukan yang sangat besar untuk mengejar Nabi Musa dan Bani Israil. Mereka berhasil menyusul rombongan Nabi Musa ketika matahari mulai terbit.
Ketika kedua rombongan sudah saling melihat, para pengikut Nabi Musa merasa ketakutan. Di hadapan mereka hanya ada Laut Merah (Laut Qulzum), sedangkan di belakang pasukan Fir’aun semakin dekat. Mereka pun berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”
Namun Nabi Musa tetap tenang dan berkata:
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Musa yakin Fir’aun tidak akan mampu menyusul mereka karena Allah sendiri yang memerintahkan perjalanan tersebut. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada hamba yang taat.
Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut. Atas izin Allah, lautan pun terbelah menjadi jalan-jalan yang kering. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa laut itu terbelah menjadi dua belas jalan, sesuai dengan jumlah kabilah Bani Israil. Air laut berdiri tegak bagaikan gunung atau tembok besar di sisi kanan dan kiri, sementara dasar laut menjadi kering sehingga dapat dilalui dengan aman.
Peristiwa ini juga dijelaskan dalam firman Allah:
“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu; engkau tidak perlu khawatir akan tersusul dan tidak perlu takut (tenggelam).” (QS. Thaha: 77).
Setelah seluruh Bani Israil berhasil menyeberang, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan seluruh pengikutnya. Sebaliknya, Fir’aun beserta seluruh bala tentaranya ditenggelamkan di laut.
Di akhir kisah tersebut, Allah menegaskan bahwa semua peristiwa itu merupakan tanda kekuasaan-Nya sekaligus bukti nyata bahwa Allah selalu memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjalankan perintah-Nya. Itulah yang langsung terlintas di pikiran saya ketika melihat foto profil teman wartawan senior tersebut.
Bagi saya, penggalan ayat “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku” bukan sekadar kalimat yang indah. Ayat itu mengandung pesan yang sangat kuat: jangan pernah berputus asa. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, pertolongan Allah pasti ada bagi orang yang beriman, bersabar, bertawakal, dan tetap istiqamah menjalankan perintah-Nya.
