WHO Ingatkan Krisis Kesehatan Gaza Makin Parah Jelang Musim Dingin
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kondisi kesehatan di Jalur Gaza, Palestina, dapat semakin memburuk menjelang musim dingin. Keterlambatan berulang dalam pengiriman obat-obatan, prostetik, serta perlengkapan medis dinilai dapat memperbesar risiko terhadap keselamatan warga yang membutuhkan penanganan kesehatan.
Mengutip laman resmi UN News, Perwakilan WHO di wilayah Palestina yang diduduki, Reinheld van De Weerdt, mengatakan pasokan medis yang datang terlambat tidak akan banyak membantu upaya penyelamatan nyawa. Menurutnya, bantuan yang tiba harus sesuai kebutuham dan waktu yang diperlukan di lapangan.
"Truk yang membawa pasokan nonprioritas, ayau pasokan penting yang tiba terlalu terlambat, tidak membantu menyelamatkan nyawa," kata Van De Weerdt.
Musim Dingin Perburuk Kondisi Kesehatan
Van De Weerdt mendesak otoritas pendudukan Israel untuk melonggarkan pembatasan terhadap masuknya perlengkapan medis ke Gaza. Ia menegaskan, berbagai barang yang dikirim telah mengacu pada standar internasional dan disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit serta fasilitas kesehatan.
Dalam enam bulan terakhir, pengiriman prostetik dan alat bantu disebut telah ditolak masuk sebanyak empat kali. Sementara itu, pengiriman obat-obatan relatif lebih lancar, demngan sekitar 87 persen permintaan disetujui untuk masuk dan sedikit lebih dari 1 persen ditolak, dikutip dari Syrian News Agency, Sabtu (3/10/2026).
WHO menilai Gaza membutuhkan masuknya pasokan kemanusiaan dan kesehatan dalam jumlah besar tanpa hambatan maupun penundaan. Van De Weerdt juga mendorong penggunaan beberapa penyeberangan agar distribusi bantuan dapat berlangsung lebih cepat, teratir, dan mampu memenuhi kebutuhan warga.
Ancaman semakin besar karena musim dingin akan segera tiba. Sekitar 2 juta orang di Gaza dilaporkan tidak memiliki tempat berlindung yang memadai untuk melindungi diri dari cuaca dingin maupun ancaman banjir, sehingga kebutuhan terhadap bantuan medis dan kemanusiaan diperkirakan meningkat.
Di sisi lain, kerusakan laboratorium kesehatan masyarakat membuat pemantauan dan pelacakan potensi wabah menjadi semakin sulit. Minimnya tempat berlindung yang aman, keterbatasan air bersih, serta meningkatnya keberadaan hewan pengerat seperti tikus turut memperbesar risiko munculnya penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. (Zat)
