Iran Siapkan Pembukaan Selat Hormuz, AS Diminta Penuhi Syarat

Selat Hormuz

DEKANNEWS - Iran masih menahan pembukaan kembali Selat Hormuz dan meminta Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan terlebih dahulu. Teheran menyatakan pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut bergantung pada jaminan konkret dari Washington untuk mengakhiri perang di seluruh lini.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan negaranya juga meminta pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabuyan pembatasan minyak, serta penghentian blokade laut. Persyaratan tersebut menjadi bagian dari inisiatif diplomatik tujuh hari yang diajukan Teheran.

Dalam skema yang ditawarkan Iran, Washington harus lebih dulu menjalankan sejumlah langkah yang diminta Teheran. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan siap membuka kembali Selat Hormuz dan memulai pembicaraan mengenai kesepakatan ajkhir dalam jangka waktu tujuh hari.

Khatibzadeh mengatakan proposal tersebut telah disampaikan kepada pemerintah AS melalui Qatar sebagai mediator. Teheran kemudian menerima tanggapan Washington melalui jalur yang sama.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selanjutnya menyampaikan respons awal Teheran kepada mediator Qatar saat melakukan persinggahan singkat daslam perjalanan pulang dari New York.

"Bola kini ada di tangan AS," ujar Khatibzadeh, dikutip hari jni Jumat (2/10/2026).

Menurut Khatibzadeh, Iran tetap membuka jalur diplomasi meskipun Teheran menilai terdapat pelanggaran berulang terhadap kesepakatan sebelumnya. Di sisi lain, Iran menyatakan tetap mempertahankan kesiapan pertahanan umtuk menghadapi berbagai jemungkinan.

Rencana diplomatik tujuh hari tersebut sebelumnya juga disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di sela-sela Sidang Umum PBB. Ia mengatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam tujuh hari apabila persyaratan yang diajukan Iran dipenuhi.

Usulan terbaru Iran meniliki kaitan dengan kesepakatan yang dicapai di Islamabad pada 18 Juni dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta dimulainya putaran perundingan baru.

Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut kemuduian terhenti setelah ketegangan antara Tehran dan Washington kembali meningkat. Kondisi itu membuat pembicaraan mengenai pembukaan Selat Hormuz kembali menjadi bagian penting dalam upaya diplomasi kedua negara.

Melalui proposal tujuh hari tersebut, Iran kini mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan serangkaian langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh Amerika Serikar. Teheran menyatakan jalur diplomasi masih terbuka, sementara keputusan selanjutnya berada pada Washington. (Zat)