Kekeringan Ekstrem Membuat Permukiman di Bendungan Karian Muncul Lagi
DEKANNEWS, LEBAK — Fenomena El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan menyebabkan permukaan air Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, mengalami penyusutan drastis. Kondisi ini membuat sejumlah bangunan bekas permukiman warga yang sebelumnya terendam untuk pembangunan waduk kembali terlihat, termasuk rumah-rumah tua dan sebuah masjid yang masih berdiri kokoh.
Salah satu kawasan yang kembali menampakkan sisa-sisa permukimannya adalah Kampung Somang. Wilayah yang dahulu dihuni banyak warga itu kini memperlihatkan deretan bangunan yang sebagian besar hanya menyisakan dinding tanpa atap setelah air bendungan surut.
Warga mulai meninggalkan Kampung Somang pada 2023 sebagai bagian dari proses penggenangan waduk. Meski demikian, sejumlah bangunan tidak dibongkar sepenuhnya sehingga sisa strukturnya masih dapat ditemukan ketika permukaan air menurun. Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang.
Pada Juli 2026, penyusutan air Bendungan Karian semakin memperlihatkan bekas rumah-rumah warga yang sebelumnya berada di bawah genangan. Di Kampung Karian, pengosongan permukiman telah dilakukan sejak 2021. Sebelum kawasan tersebut ditenggelamkan, warga sempat mengambil kembali sejumlah material bangunan, seperti genteng, kaca, dan kayu fondasi, untuk digunakan kembali.
Di antara bangunan-bangunan yang kini tersisa di Kampung Somang, Masjid Al Mujahidin menjadi salah satu struktur yang mencolok. Berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya yang sebagian besar telah kehilangan atap, masjid tersebut masih berdiri relatif utuh dengan kubah betwarna biru dan menara yang masih lengkap.
Masjid Al Mujahidin juga disebut memiliki nilai sejarah karena konon telah berdiri sejak masa kolonial Belanda di Indonesia. Keberadaan bangunan tersebut di tengah bekas permukiman yang tersingkap akibat surutnya air bendungan menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dari fenomena ini.
Bendungan Karian sendiri diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Januari 2024. Pembangunan bendungan yang dimulai pada 2015 itu masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai anggaran mencapau Rp2,2 triliun.
Bendungan tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 315 juta meter kubik dan luas genangan sekitar 1.773 hektare. Infrastruktur ini dibangun untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bagi maadyarakat di Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat.
Pembangunan Bendungan Karian turut memerlukan pembebasan lahan seluas 2.266,44 hektare. Proses tersebut juga berdampak pada sejumlah fasilitas umum yang harus dipindahkan, mencakup 6 sekolah, 11 masjid, 5 madrasah, 9 majelis, 6 musala, 4 kantor desa, 1 polindes, dan 3 posyandu, sehingga total terdapat 37 banguman fasilitas umum yang direlokasi.
Selain permukiman dan fasilitas umum, proyek tersebut juga mencakup pemindahan 13.017 makam yang berasal dari 54 titik tempat pemakaman umum dan makam keramat. Relokasi turut dilakukan terhadap 29 tapak menara PLN serta lahan milik pemerintah sebagai bagian dari kebutuhan pembangunan bendungan. (Zat)
