Macron Janjikan Langkah Tegas Redam Demo Pelajar Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron

DEKANNEWS – Pemerintah Prancis berupaya meredakan gelombang demonstrasi pelajar yang berlangsung selama berminggu-minggu dan diwarnai kerusuhan di sejumlah wilayah. Presiden Emmanuel Macron meminta pemerintah merespons tuntutan demonstran, sementara aparat keamanan bersiap menghadapi kemungkinan aksi lanjutan pada akhir pekan berikutnya.

Macron mengatakan Perdana Menteri Sébastien Lecornu akan mengumumkan langkah-langkah tegas untuk meredakan ketegangan. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa potensi kerusuhan masih ada seiring belum terpenihinya tuntutan para pelajar.

“Saya juga telah meminta pemerintah untuk memanggapi tuntutan-tuntutan sah yang menjadi akar dari gerakan sosial ini,” ujar Macron kepada wartawan saat berkunjung ke Marseille, dikutip dari France 24, Senin (26/10/2026).

Sebagai tindak lanjut, Lecornu dijadwalkan bertemu dengan perwakilan serikat pelajar sekolah nenengah sebelum menyampaikan perkembangan penanganan protes. Pertemuan tersebut turut melibatkan Menteri Pendidikan Nasional Edouard Geffray dan Menteri Pendidikan Tinggi Philippe Baptiste.

Gelombang demonstrasi dipicu tuntutan perbaikan kondisi pendidikan dan semakin meluas di tengah keresahan masyarakat mengenai biaya hidup. Aksi nasional pada 17 Oktobet dilaporkan berujung pada kerusuhan serius, termasuk bentrokan antara demonstran dan aparat, penjarahan, serta perusakan fasilitas umum.

Sebelumnya, Macron telah mengadakan pertemuan dengan perwakilan pelajar untuk membahas tuntutan mereka. Namun, pertemuan tersebut belum meredakan aksi sepenuhnya karena para siswa masih mendesak pemerintah mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan yang mereka suarakan.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez memperkirakan demonstrasi lanjutan akan berlangsung pada Sabtu berikutnya. Pemerintah meningkatkan pengamanan guna mengantisipasi kemungkinan bentrokan dan mencegah kerusuihan kembali meluas.

Nunez mengatakan situasi demonstrasi pada akhir pekan sebelumnya relatif lebih terkendali dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, kekerasan masih terjadi di Paris dan sejumlah kota lain, termasuk Marseille, sehingga aparat tetap meningkatkan kewaspadaan.

Ia mengungkapkan sebanyak 1.435 orang ditangkap selama rangkaian demonstrasi tersebut. “Situasi berhasil dikendalijan dan tidak ada insiden serius yang terjadi,” ujar Nunez kepada stasiun televisi BFMTV.

Meski situasi dinilai lebih terkendali, Nunez menyoroti tingginya tingkat kekerasan yang dialami aparat keamanan selama menghadapi demonstrasi. Ia menilai serangan terhadap petugas menjadi salah satu persoalan serius dalam penanganan aksi massa tersebut.

“Namun, kami menyaksikan tingkat kekerasan yang sangat tinggi yang ditujukan kepada aparat keamanan dalam negeri,” katanya.

Menurut Nunez, sebanyak 267 personel kepolisian dan gendarmerie mengalami luka-luika selama rangkaian demonstrasi. Selain itu, 150 demonstran juga terluka, dengan tiga orang dilaporkan mengalami cedera serius di Toulouse, Reims, dan Clermont-Ferrand.

Di sisi lain, pendekatan kepolisian dalam menangani demonstrasi turut menuai kritik dari sejumlah pihak. Tindakan aparat, termasuk pemblokiran sekolah, dinilai terlalu keras dan memicu perdebatan mengenai proporsionalitas penggunaan kekuatan dalam mengendalikan aksi massa.

Kritik terhadap aparat tersebut ikut memperluas isu yang disuarakan demonstran. Selain menuntut perbaikan kondisi pendidikan dan penanganan biaya hidup, sebagian peserta aksi juga menyoroti kekerasan oleh aparat, sehingga pemerintah menghadapi tekanan untuk meredakan ketegangan sekaligus menjawab tuntutan masyarakat. (Zat)