Pengamat : Sikap Tegas Indonesia dalam Konflik Iran-Amerika Harus Tetap Bebas Aktif
DEKANNEWS, JAKARTA — Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai Indonesia perlu menunjukkan sikap tegas dalam menyikapi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, ketegasan Indonesia tidak harus diwujudkan dengan memihak salah satu negara, melainkan melalui politik luar negeri bebas aktif dan upaya mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Amir mengatakan posisi Indonesia menjadi semakin strategis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara negara-negara yang tengah berkonflik. “Indonesia tidak harus masuk ke dalam konflik. Justru kekuatan kita adalah kemampuan berbicara dengan semua pihak. Itu yang harus dipertahankan,” kata Amir dalam keterangannya, Sabtu (22/8).
Ia menilai diplomasi internasional tidak selalu dapat dilihat dari permyataan resmi yang disampaikan kepada publik. Dalam hubungan antarnegara, kata Amir, terdapat komunikasi informal dan diplomasi tertutup yang kerap berjalan bersamaan dengan diplomasi terbuka. “Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan seluruh proses diplomasi. Ada komunikasi yang berlangsung di balik layar dan tidak semuanya bisa diketahui masyarakat,” ujarnya.
Amir juga mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat pada masa lalu menunjukkan bahwa diplomasi antarnegara sering kali memiliki dimensi yang tidak terlihat oleh publik. Ia menyinggung dinamika politik Indonesia pada era 1960-an sebagai contoh bajwa sikap resmi suatu negara dapat berbeda dengan kepentingan strategis yang dijalankan melalui jalur diplomasi. “Sejarah menunjukkan bahwa hubungan antarnegara itu sangat kompleks. Ada kepentingan yang disampaikan secara terbuka dan ada pula komunikasi yang dilakukan secara tertutup,” katanya.
Dalam menghadapi konflik Iran-Amerika Serikat, Amir menilai Indonesia harus tetap konsisten dengan prinsip perdamaian dan hukum internasional. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menyerukan penghentian serangan serta mendorong seluruh pihak kembali ke jalur perundingan. “Sikap tegas Indonesia adalah menolak perang dan mendorong dialog. Kita tidak perli menjadi bagian dari blok mana pun,” ujarnya.
Selain persoalan keamanan, Amir mengingatkan dampak konflik terhadap perekonomian Indonesia. Konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur perdagangan, harga energi, pasar keuangan, serta rantai pasok global. Karena itu, menurut dia, diplomasi perdamaian juga merupakan bagian dari upaya melindungi kepentingan ekonomi nasional. “Indonesia harus menghitung dampaknya terhadap rakyat. Jangan sampai konflik yang terjadi jauh dari Indonesia kemudian menimbulkan tekanan terhadap harga energi, perdagangan, dan perekonomian kita,” katanya.
Amir menegaskan Indonesia tidak perlu memilih antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, kepentingan utama Indonesia adalah menjaga kedaulatan, keselamatan warga negara, stabilitas kawasan, serta kepentingan ekonomi nasional. “Ketegasan Indonesia bukan berarti ikut perang atau memusuhi salah satu pihak. Ketegasan kita adalah tetap bebas aktif, menolak penggunaan kekerasan, mendorong diplomasi, dan menjaga kepentingan nasional. Kalau itu bisa dilakukan, Indonesia justru mempunyai posisi strategis di tengah pertarungan kekuatan besar,” pungkas Amir. (Zat)
