Perang Yaman Kembali Memanas, Lebih dari 300 Tewas dan 1.790 Keluarga Mengungsi

Perang Yaman

DEKANNEWS - Pertempuran antara pasukan Pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi yang didukung Iran kembali memanas di wilayah barat daya Yaman. Konflik tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, tetapi juga mendorong ribuan keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka.

Sejak pertempuran pecah pada Kamis (3/9/2026), lebih dari 300 kombatan dan sejumlah warga sipil dilaporkan tewas. Sedikitnya 1.790 keluarga juga terpaksa mengungsi akibat pertempuran di Provinsi Taiz.

Dikutip dari Arab News, Senin (7/9/2026), pejabat Pemerintah Yaman menyebut 84 tentaranya tewas pada Sabtu hingga Minggu pagi, sebagian besar akibat serangan rudal.

Sementara itu, empat sumber militer Houthi melaporkan sebanyak 57 pejuang kelompok tersebut tewas dalam periode yang sama. Perbedaan data korban dari kedua pihak masih menunjukkan sengitnya pertempuran yang terjadi di wilayah tersebut.

Perhitungan AFP berdasarkan keterangan sejumlah sumber militer dan medis dari kedua pihak menyebut jumlah korban tewas telah melampaui 300 kombatan sejak serangan Houthi dimulai.

Pertempuran kali ini memiliki arti strategis karena berkaitan dengan perebutan akses menuju Laut Merah. Konflik tersebut juga menjadi salah satu pertempuran paling mematikan di Yaman sejak gencatan senjata yang berlangsung sejak 2022 runtuh pada Juli lalu.

Dampak pertempuran paling dirasakan masyarakat sipil di Maqbanah dan Jabal Habashi, Provinsi Taiz. Sejumlah keluarga meninggalkan wilayah tersebut dan mencari perlindungan di kamp pengungsi internal Al-Bareen pada Sabtu (5/9/2026).

Para pengungsi bahkan membawa kasur, ternak, serta barang-barang pribadi untuk mendirikan tempat tinggal sementara di lokasi pengungsian lainnya. Kondisi tersebut menggambarkan besarnya dampak pertempuran terhadap kehidupan warga.

“Penembakan itu datang dari atas dan dari bawah,” kata Rawdhah Hasan, warga yang mengungsi dari Maqbanah.

“Mereka mengepung kami dari segala arah, kami melarikan diri bersama anak-anak kami tanpa sempat memakai sepatu,” tambahnya.

Perebutan Akses Laut Merah

Houthi melancarkan serangan pada Kamis dengan sasaran utama memutus akses menuju kota pelabuhan Mokha yang masih berada di bawah kendali Pemerintah Yaman. Kota tersebut sebelumnya telah menjadi sasaran serangan selama beberapa pekan.

Dari wilayah tersebut, kelompok Houthi kemudian berupaya bergerak menuju kawasan yang berbatasan dengan Selat Bab Al-Mandab. Selat ini menjadi salah satu jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan kawasan perairan di selatan.

Seorang pejabat militer Pemerintah Yaman mengatakan Houthi berhasil memutus jalan yang menghubungkan Taiz dengan Mokha pada Sabtu malam. Langkah tersebut berpotensi menghambat pergerakan pasukan maupun distribusi kebutuhan masyarakat.

Nimah Saif, warga yang mengungsi dari distrik Jabal Habashi, mengatakan pertempuran telah menimbulkan korban di kalangan masyarakat. Ia mengaku melihat sejumlah orang terluka dan tewas di tengah situasi yang semakin sulit.

“Kami melihat mereka tergeletak di tanah, tetapi kami tidak dapat membantu siapa pun,” ujarnya.

“Sekarang kami terdampar di sini, kelaparan, tanpa ada makanan,” tambahnya.

Badan PBB untuk Koordimasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Jumat (4/9/2026) memperkirakan sebanyak 1.790 keluarga telah mengungsi akibat penembakan dan bentrokan hebat di Maqbanah dan Jabal Habashi.

PBB turuit menyampaikan keprihatinan terhadap eskalasi konflik tersebut. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bentrokan berkepanjangan dapat menimbulkan dampak politik, ekonomi, dan keamanan yang menghancurkan bagi Yaman dan masyarakatnya.

Seorang pejabat militer Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan berbasis di Aden mengatakan intensitas pertempuran mulai mereda pada Minggu dini hari.

Menurut pejabat tersebut, pasukan pemerintah berhasil membangun posisi di utara Hays sertelah melakukan pergerakan maju. Distrik Hays sendiri merupakan salah satu wilayah garis depan yang berjarak kurang dari 30 kilometer dari pantai Laut Merah.

Namun, Houthi disebut bergerak ke arah barat Taiz yang berada di selatan Hays. Pergerakan tersebut duinilai berkaitan dengan upaya kelompok tersebut mendekati kawasan Bab Al-Mandab.

Gencatan Senjata Terancam

Pengamat Timur Tengah dari Chatham House yamg berbasis di Inggris, Farea Al-Muslimi, menilai Houthi tengah memanfaatkan lemahnya garis depan di sekitar Mokha. Kelompok tersebut disebut berupaya memutus sejumlah jalur yang menghubungkan Taiz dengan Bab Al-Mandab dan Mokha.

“Jika mereka memiliki kesempatan untuk sepenuhnya mengambil alih Bab Al-Mandab, mereka tidak akan ragu sedetik pun,” kata Al-Muslimi.

Posisi Bab Al-Mandab semakin penting dalam situasi geopolitik saat ini setelah Iran menutup Selat Hormuz untuk kaspal-kapal komersial. Selat Bab Al-Mandab merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Eskalasi terbaru tersebut sekaligus memperbesar kekhawatiran terhadap keberlangsungan gencatan senjata di Yaman. Gencatan senjata antara Houthi dan pemerintah runtuh pada Juli setelah pemberontak menyambut kedatangan pesawat Iran di ibu kota Sanaa, yang kemudian diikuti serangkaian serangan dan kembali meningkatkan ketegangan di negara tersebut. (Zat)