Samsung Galaxy S26 Ultra Moncer di Tengah Harga RAM Melambung

Samsung Galaxy S26

DEKANNEWS, JAKARTA - Samsung Galaxy S26 Ultra berhasil mencatatkan performa penjualan yang mengesankan di pasar global, bahkan mampu menembus jajaran teratas smartphone terlaris dunia di tengah tekanan kenaikan harga komponen memori atau yang dikenal sebagai RAMageddon.

Dikutip dari 9to5Google, Senin (31/8/2026), Galaxy S26 Ultra menjadi smartphone Android dengan penjualan tertinggi secara global pada kuartal kedua (Q2) 2026. Pencapaian ini menjadi yang pertama bagi smartphone Android kelas premium untuk menduduki posisi tersebut.

Secara keseluruhan, Galaxy S26 Ultra berada di posisi keempat dalam daftar smartphone terlaris dunia. Tiga posisi teratas masih dikuasai Apple melalui iPhone 17, iPhone 17 Pro Max, dan iPhone 17 Pro.

Capaian tersebut menunjukkan kuatnya daya tarik Galaxy S26 Ultra di segmen premium. Ponsel ini bahkan mampu mencatat penjualan lebih tinggi dibndingkan sejumlah perangkat Galaxy A yang memiliki harga lebih terjangkau.

Performa Galaxy S26 Ultra juga meningkat signifikan dibandingkan pendajulunya. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Galaxy S25 Ultra hanya berada di peringkat ke-10 smartphone terlaris dunia.

Salah satu hal yang turut memengaruhi pencapaian tersebut adalah waktu peluncuran seri Galaxy S26 yang lebih lambat dibandingkan generasi sebelumnya. Kondisi ini membuat porsi penjualan perangkat lebih banyak tercatat pada kuartal kedua 2026.

Selain mengandalkan spesifikasi kelas atas, Galaxy S26 Ultra membawa sejumlah fitur baru sebaggai daya tarik utama. Salah satunya adalah Privacy Display yang dipadukan dengan berbagai peningkatan berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Keberhasilan tersebut menjadi semakin menarik karena terjadi ketika industri smartphone tengah menghadapi tekanan dari kenaikan harga RAM dan memori penyimpanan. Produsen harus mencari cara agar kenaikan biaya komponen tidak terlalu memengaruhi penjualan produk mereka.

Apa Itu RAMageddon dan Strategi Samsung?

RAMageddon merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan tekanan di industri akibat terbatasnya pasokan komponen memori yang kemudian mendorong kenaikan harga RAM dan penyimpanan.

Counterpoint Research mencatat 10 smartphone terlaris menyumbang 26% penjualan smartphone global pada kuartal kedua 2026. Kondisi tersebut membuat produsen semakin mengandalkan model-model utama yang dinilai memiliki daya tarik paling kuat di pasar.

Samsung turut mengarahkan strategi penjualannya kepada perangkat flagship demngan meningkatkan perhatian dan promosi terhadap lini premium. Lgkah tersebut dilakukan untuk menjaga kinerja penjualan di tengah meningkatnya biaya komponen.

Galaxy S26 Ultra menjadi salah satu penopang utama strategi tersebut. Penjualan model ini tercatat menyumbang lebih dari separuh total penjualan seluruh seri Galaxy S26 pada kuartal kedua 2026.

Di sisi lain, Samsung masih mendapatkan dukungan dari lini Galaxy A yang mnemiliki pasar berbeda. Sejumlh model di kelas tersebut tetap diminati karena menawarkan harga yang lebih terjangkau, ketersediaan luas, serta nilai yang dinilai sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Kombinasi antara kuatnya penjualan flagship dan tetap populer lini Galaxy A membuat Samsung memiliki basis pasar yang cukup beragam. Strategi tersebut menjadi penting ketika produsen smartphone menghadapi tekanan biaya komponen.

Kinerja Galaxy S26 Ultra pada kuartal kedua 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa perangkat premium Samsung mampu mempertahankan daya saingnya di pasar global, bahkan ketika industri smartphone tengah menghadapi tantangan kenaikan harga komponen memori. (Zat)