Harga Minyak Dunia Stabil, Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan
DEKANNEWS - Harga minyak dunia bergerak terbatas pada awal perdagangan Asia, Jumat (23/10/2026), setelah mengalami lonjakan tajam pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah global.
Pergerakan yang cenderung stabil tersebut terjadi setelah harga minyak sempat melonjak hingga 4 persen dan mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar.
Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangkaian serangan kelompok Houthi yang menargetkan infrastruktur penting di Arab Saudi. Sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia, gangguan terhadap fasilitas energi negara tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan global.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 00.30 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 21 sen atau 0,2 persen menjadi 112,96 dolar AS per barel. Pelemahan tipis ini menunjukkan bahwa pasar masih berupaya menyesuaikan harga setelah kenaikan signifikan pada hari sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) juga terkoreksi 27 sen atau 0,3 persen ke level 98,12 dolar AS per barel. Meski kedua acuan minyak tersebut mengalami penurunan pada awal perdagangan, pergerakan harga secara mingguan menunjukkan tren yang berbeda.
WTI diperkirakan mengakhiri penguatan selama dua pekan berturut-turut dan mencatatkan penurunan dalam sepekan. Sebaliknya, Brent berpeluang membukukan kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun, setelah ditutup pada Kamis di level tertinggi sejak 4 Mei.
Ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi semakin menjadi perhatian setelah Reuters melaporkan bahwa Saudi Aramco memerintahkan evakuasi di kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari kawasan Teluk Bahrain yang menjadi bagian penting dari wilayah strategis di pesisir timur Arab Saudi.
Langkah evakuasi tersebut dilakukan di tengah meningkatnya intensitas konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Situasi ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan operasional perusahaan energi serta dampaknya terhadap pasokan minyak mentah dunia.
Ketegangan juga meluas ke kawasan Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di pintu masuk Laut Merah. Kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran dilaporkan bergerak mendekati wilayah tersebut, sementara pertempuran dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerinyah Yaman masih berlangsung.
Selain Timur Tengah, gangguan produksi minyak turut terjadi di Afrika Utara. Kepala National Oil Corporation mengatakan kepada Reuters pada Kamis bahwa sebuah katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya telah ditutup, sehingga produksi dari kedua wilayah tersebut mengalami pengurangan.
Di tengaj berbagai risiko pasokan tersebut, pasar minyak juga memantau perkembangan hubungan Rusia dan Ukraina. Moskow pada Rabu menyatakan kesediaannya untuk kembali menggelar peruindingan dengan Kyiv yang dimediasi Amerika Serikat pada bulan depan, setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu denhan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy turut menyampaikan harapan agar pembicaraan tersebut dapat berlangsung pada awal November. Jika terealisasi, prertemuan itu akan menjadi dialog langsung pertama antara kedua pihak sejak Februari lalu dan berpotensi memengaruhi prospek konflik yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Perkembangan diplomasi Rusia-Ukraina menjadi perhatian karena Rusia masih memegang peranan penting dalam pasat energi global. Berdasarkan data energi AS, Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025, setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Sanksi internasional terhadap sektor energi Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022 juga masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasokan minyak global. Dengan meningkatnya risiko keamanan di Timur Tengah serta ketidakpastian konflik Rusia-Ukraina, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik untuk memperkirakan arah harga minyak selanjutnya. (Zat)
