Iran Ancam Perluas Target Serangan jika Perang dengan AS Kembali Pecah
DEKANNEWS, JAKARTA – Iran mengisyaratkan kesiapan militernya untuk kembali menghadapi Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya pernyataan keras dari para pejabat militer negara tersebut. Jika konflik kembali pecah, cakupan serangan dikhawatirkan meluas hingga menyasar infrastruktur strategis di luar medan pertempuran sebelumnya.
Dikutip dari CNN, komandan militer Iran Alireza Sheikh menyatakan negaranya tidak gentar menghadapi kemungkinan AS menggunakan bom GBU-43/B dalam konflik mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (17/10/2026).
Bom GBU-43/B merupakan senjata konvensional terbesar yang dimiliki AS dan dikenal dengan julukan MOAB atau Mother of All Bombs. Senjata tersebut disebut menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan dalam strategi militer AS untuk menghadapi Iran.
Sheikh menilai kabar mengenai kemungkinan penggunaan bom tersebut merupakan bagian dari upaya Washington untuk memberikan tekanan psikologis kepada Teheran. Dia menegaskan bahwa ancaman itu tidak akan membuat rakyat Iran merasa takut.
“Ini adalah alat propaganda yang dimaksudkan untuk mengintimidasi rakyat Iran,” katanya.
“Rakyat Iran adalah bapak dari semua bom,” lanjut Sheikh dalam pernyataannya yang bernada menantang terhadap ancaman militer AS.
Pernyataan Sheikh menambah rangkaian pesan dari pejabat militer Iran dalam sebulan terakhir yang menegaskan kesiapan negara itu untuk kembali terlibat dalam pertempuran. Mereka juga mengklaim telah memulihkan persediaan persenjataan dalam jumlah besar untuk menghadapi kemungkinan perang berikutnya.
Pada akhir September 2026, juru bicara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menyatakan bahwa militer Iran masih memiliki kemampuan untuk membuat dunia tercemgang. Dia juga mengisyaratkan adanya sasaran baru yang dapat menjadi target apabila konflik kembali berlangsung.
“Kami memiliki target baru yang belum diserang,” kata Mohebbi. Dia sekaligus menegaskan bahwa perang belum brerakhir dan Iran telah mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan.
Peringatan serupa disampaikan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei pada 11 Oktober 2026. Dia menyebut Iran berpotensi memperluas sasaran serangan ke berbagai fasilitas strategis di kawasan Teluk, termasuk infrastruktur teknologi.
“Jika perang lain pecah, banyak kabel bawah laut, pusat data, fasilitas AI, dan infrastruktur lainnya di seluruh kawasan dapat dihancurkan,” ujar Rezaei.
Sejak perang pecah pada Februari 2026, Iran dilaporkan memusatkan strategi militernya pada upaya mengganggu pelayaran di Selat Hotmuz dan menyerang fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Sejumlah serangan berhasil dicegat, tetapi gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut telah menimbulkan tekanan terhadap perekonomian global.
Ancaman terhadap pusat data, kabel bawah laut, dan fasilitas kecerdasan buatan atau AI menunjukkan potensi dampak konflik yang lebih luas apabila Iran benar-benar memperluas sasaran serangannya. Infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam mendukung komunikasi, layanan digital, dan aktivitas ekonomi di kawasan.
Iran Isyaratkan Perubahan Doktrin Militer
CNN melaporkan bajwa pernyataan para pejabat Iran memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan perubahan doktrin militer Teheran ke arah yang lebih ofensif. Iran disebut berpotensi tidak hanya menunggu serangan lawan, tetapi juga mempertimbangkan serangan pendahuluan dalam skenario konflik berikutnya.
Spekulasi tersebut turut menguat setelah IRGC mengumumkan latihan militer di berbagai wilayah Iran pada pekan sebelumnya. Dalam latihan itu, IRGC mengklaim berhasil meluncurkan 30 rudal balistik secara bersamaan, yang menunjukkan kemampuan yang ingin ditampilkan Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS. (Zat)
