Kemarau Ancam Panen Padi di Tangerang, Ratusan Hektare Sawah Terdampak

Musim Kemarau Panjang Berdampak Kekeringan

DEKANNEWS JAKARTA - Kabupaten Tangerang, Banten, mulai dilanda kekeringan imbas kemarau panjang yang melanda selama hampir tiga bulan. 

Kondisi ini mulai mengancam produksi padi di sejumlah wilayah bahkan Kekeringan menyebabkan ratusan hektare sawah terdampak dan meningkatkan risiko gagal panen bagi petani yang masih bergantung pada curah hujan.

Salah satu petani yang merasakan dampaknya adalah Fendi (65), petani penggarap di Kecamatan Jambe. Sebanyak 12 petak sawah yang dikelolanya mengalami kekeringan karena tanaman padi kekurangan air sebelum memasuki fase pembentukan bulir.

Pantauan di lapangan, di areal persawahan Jambe san sekitarnya menunjukkan sebagian besar lahan telah mengering. Tanah terlihat retak, sementara tanaman padi berusia sekitar dua bulan berubah warna menjadi kemerahan, layu, dan tidak lagi mengalami pertumbuhan meski telah beberapa kali dipupuk.

Fendi mengaku telah berupaya menyelamatkan tanamannya dengan memompa air menggunakan bahan bakar yang dibeli sendiri. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil karena sumber air di sekitar sawah ikut mengering. Ia memperkirakan kerugian yang dialaminya sudah melebihi Rp5 juta dan berpotensi bertambah apabila gagal panen benar-benar terjadi.

Selain kehilangan potensi hasil panen, Fendi uga mengkhawatirkan cadangan pangan keluarganya yang terus menipis. Sebagai petani penggarap dengan sistem bagi hasil, seluruh biaya produksi ditanggung sendiri, sedangkan apabila panen gagal, kerugian tidak dibagi dengan pemilik lahan.

Menurut Fendi, musim kemarau tahun ini merupakan salah satu yang paling berat selama dirinya bertani. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang masih diselingi hujan, musim kemarau kali ini membuat tanaman mengering sebelum sempat menghasilkan bulir padi.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kecamatan sekitarnya, Taban, Daru, Panongan dan lainnya. Tanpa tambahan pasokan air maupun hujan dalam waktu dekat, sebagian tanaman diperkirakan tidak dapat dipanen sehingga berpotensi memperbesar kerugian yang dialami petani.

Kekeringan juga menimpa wilayah sekitar seperti di kabupaten Lebak Banten, Data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak periode 1–15 Juli 2026 mencatat kekeringan telah melanda tujuh kecamatan dengan total luas lahan terdamak mencapai sekitar 372 hektare. Kalanganyar menjadi wilayah terdampak terluas dengan 227 hektare, disusul Cipanas dan Rangkasbitung masing-masing 49 hektare, Cibadak 21 hektare, Muncang 17 hektare, Maja lima hektare, serta Warunggunung empat hektare.

Kerentanan tersebut dipengaruhi karakteristik pertanian di Kabupaten Lebak yang masih didominasi sawah tadah hujan. Dari total 52.033,1 hektare lahan sawah berdasarkan data Baku Sawah Kabupaten Lebak 2025, sekitar 21.088,2 hektare atau 40,5 persen belum didukung jaringan irigasi teknis sehingga sangat bergantung pada curah hujan.

Kondisi ini tidak hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga berpotensi menekan pendapatan petani, mengurangi cadangan pangan rumah tangga, melemahkan daya beli masyarakat, serta memperlambat perputaran ekonomi di kawasan perdesaan apabila musim kemarau terus berlangsung. (Zat)