LG Kibarkan Bendera Putih di Industri Smartphone, Garap Bisnis Teknologi Lain

Logo Perusahaan Teknologi Korea Selatan LG

DEKANNEWS - Sejumlah perusahaan raksasa dalam industri smartphone bertumbangan termasuk LG yang mengambil keputusan untuk mengakhiri industri smartphone pada pada 31 Juli 2021.

LG sebenarnya bukan pemain baru yang minim inovasi bahkan telah mengeksplorasi berbagai sistem operasi--mulai dari platform berbasis Adobe Flash, Windows Mobile, Symbian, hingga Android.

Selama bertahun-tahun, raksasa teknologi asal Korea Selatan mampu merilis sejumlah produk ikonik. Pada 2026, LG menjadi perusahaan pertama yang meluncurkan LG Prada, ponsel pintar pertama di dunia dengan layar sentuh kapasitif yang berhasil mendahului iPhone.

Lewat ponsel Android LG G3, dikutip dari BGR, Rabu (19/8/2026). perusahaan tersebut mencatatkan rekor penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan dengan menembus angka lebih dari 10 juta unit secara global. 

Dengan Meluncurkan berbagai inovasi smartphone, LG sempat menguasai posisi ketiga di pasar Amerika Utara dengan pangsa sekitar 10%. Namun tidak berselang lama, produksi Smartphone mereka mulai menunjukkan tanda-tanda bakal berakhir saat posisi LG di tingkat global justru merosot tajam. Pada 2020, LG berada di peringkat kesembilan dengan pangsa pasar global hanya sebesar 2%.

Dampaknya penjualan Smartphone mulai melorot tajam, data Counterpoint Research mencatat, LG hanya mampu mengapalkan 7,6 juta unit smartphone pada kuartal IV 2020. Hal tersebut berbanding terbalik dengan perusahaan smartphone lainnya. Apple teratas dengan 81,9 juta unit, diikuti Samsung (62,5 juta unit) dan Xiaomi (43 juta unit).

Penurunan volume pengiriman ini berdampak langsung pada keuangan perusahaan. Menurut laporan Reuters, divisi seluler LG membukukan kerugian operasional yang cukup signifikan bahkan selama hampir enam tahun berturut-turut hingga 2021. Total kerugian mencapai USD 4,5 miliar (sekitar Rp 80,4 triliun).

Di masa tersebut, posisi LG sangat sulit seperti terjepit berbagai lini pasar. Persaingan di kelas menengah dan premium tidak mudah. Di situ ada pemain lain yang tengah gencar-gencarnya memproduksi smartphone anyar. LG harus mengakui keunggulan Apple dan Samsung.

Sementara disegmen entry-level, merek-merek asal Tiongkok mulai bermunculan dan merusak harga pasar seperti Xiaomi, Oppo dan Vivo. Peta persaingan tersbrut semakin memperburuk income karena divisi seluler hanya menyumbang sekitar 7% dari total pendapatan grup LG.

Sebelum memutuskan mundur total, LG sebenarnya menawarkan sebagian bisnis selulernya kepada pihak lain. Namun upaya membangun kesepakatan dengan konglomerat asal Vietnam, Vingroup--induk dari produsen kendaraan listrik VinFast, batal terealisasi.

LG akhirnya memutuskan opsi lain untuk memperbaharui bidang bisnis mereka. Perusahaan tersebut mengalokasikjan sumber daya secara menyeluruh ke sektor yang lebih prospektif.

"Keputusan strategis LG untuk keluar dari sektor ponsel yang sangat kompetitif akan memungkinkan perusahaan memfokuskan sumber daya pada area pertumbuhan lain, seperti komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung, smart home, robotik, kecerdasan buatan (AI), solusi B2B, serta platform dan layanan," ungkap manajemen LG dalam pernyataan resminya saat itu.

Keputusan mengibarkan bendera putih dari bisnis smartphone terbukti menjadi langkah yang sangat tepat. Sektor-sektor baru yang digarap LG menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Divisi komponen kendaraan listrik LG telah mengantongi pesanan dengan nilai fantastis, mencapai KRW 90 hingga 100 triliun (sekitar USD 75 miliar).

Angka ini menjamin stabilitas pendapatan perusahaan untuk beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, lini bisnis B2B juga berkinerja positif dengan menyumbangkan sekitar 36 persen dari total pendapatan perusahaan. (Zat)