Malaysia Dikepung Asap Karhutla, Tujuh Wilayah Masuk Kategori Tidak Sehat
DEKANNEWS – Kabut asap yang diduga terbawa angin dari wilayah Kalimantan, Indonesia, mulai berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia. Hingga Minggu (23/8/2026) pukul 09.00 waktu setempat, tujuh wilayah di empat negara bagian tercatat memiliki Indeks Polusi Udara (API) dalam kategori tidak sehat.
Data Sistem Manajemen Indeks Polutan Udara (APIMS) menunjukkan penutunan kualitas udara terjadi di beberapa kawasan Malaysia. Kondisi tersebut dipengaruhi pergerakan angin yang membawa kabut asap ke wilayah Negeri Jiran.
Sarawak menjadi wilayah dengan paparan kabut asap paling tinggi. Empat kawasan di neghara bagian tersebut mencatat indejks API mendekati batas kategori sangat tidak sehat.
Serian mencatat API tertinggi dengan angka 194. Selanjutnya Kota Kuching berada di angka 183, Sri Aman 177, dan Samarahan 175.
Dalam standar APIMS, API 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, sedangkan 101–200 dikategorikan tidak sehat. Kualitas udara dinyatakan sangat tidak sehat ketika API berada pada level 201–300 dan berbahaya jika mencapai lebih dari 300.
Dampak kabut asap juga dirasakan sejumkah wilayah di bagian barat Malaysia. Johan Setia di Selangor mencatat API 157, Sungai Petani di Kedah mencapai 140, sedangkan Taiping di Perak berada pada angka 121.
Dilansir dari Bernama, Departemen Lingkungan Hidup (DOE) Malaysia memperkuat pemantauan kualitas udara dengan mengoperasikan 68 stasiun pengamatan di seluruh negeri. Data API diperbarui setiap satu jam untuk memantau perkembangan polusi dan mendeteksi perubahan kondisi udara secara cepat.
Kabut asap lintas batas kembali menjadi persoalan yang mnuncul di kawasan Asia Tenggara ketika musim kemarau berlangsung. Malaysia dan Singapura menjadi negara yang kerap terdampak karena kedekatan geografis dengan wilayah Indonesia yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Situasi tersebut juga mengingatkan pada sejumlah krisis kabut asap besar yang pernah terjadi pada 1997–1998 dan 2015. Saat itu, polusi udara dalam skala luas berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Siungapura, termasuk menyebabkan gangguan pernapasan dan meningkatnya kasus kesehatan serius. (Zat)
